Random Poetry

Ketika surga merayu manja, ketika jiwa merenung senja, ada berjuta kisah indah dalam senyummu.

Saat itu.. sembari tersenyum kau memandang, mengundang tanya hati pecundang, apa dikata, apa dirasa, hari itu adalah yang terindah, karena kamu mengangguk iya.

Aku mengenangmu dengan segala keindahan, meski tidak sebaliknya. Karna kini kamu yang kukenal bagai surga telah berubah. bukan nama, bukan wajah, hanya rasa.

Aku tahu di sana kau masih menantikan pagi yang sama, di setiap senja hingga purnama. Namun kau tampik malam dengan terpejam, mmbutakan aku, kamu dan kita.

Kenapa ada kamu dan aku jika tak ada kita, kenapa ada perbedaan jika tak menjadi indah, dan kenapa kau menangis jika tak ada rasa.

Dan kita hanya akan menangisi bahagia untuk rindu yang tak pernah sirna.

Terjaga bisikan rindu, sesal terulang, sesak tertuang, maaf ini milikku darimu dan kembali untukmu.

Ketika kau bilang bangun aku bangkit, kau ingin berjalan aku siap berlari, kau bersedih aku pun menangis, tapi saat kau inginkan sempurna, aku diam.

Sekarang berjalan mundur dan terbalik pun tak masalah, karena hanya hati yang mengerti adanya, bukan untuknya, tapi saya.

Tak hanya hambar terasa, namun rapuh menyelimuti semua. Inilah arti hadirmu untukku atau aku yang sengaja mengganggu mimpimu.

Dan aku membuka mata dengan sisa mimpi semalam, tentang kebisuan rasa yang selalu membuatku terjaga. Seolah bayangmu pun acuhkan aku ada.

pagi ini akan segera membiru, lalu waktu berlalu, semoga malam kan menjaga semua indah tentangmu.
.

Iklan

Kisah

masih juga dia berbicara sendiri
larut seperti lamunan dalam hati
diselakan mimpi
menyela dunia pagi hari

berdiri di depan wajah sendiri
menatap kaca dan terus mencari
setiap kata terangkai pada bingkai kotak
memantul diatas meja jati

ada senyum yang tak terbalas
ada kisah yang tak terungkap
tersesat wajah tak puas
sebuah tanya yang tak terjawab

menunduk, berpaling, berputar lalu menengadah..
setiap pandangan dihantui resah
mencari-cari alasan
untuk skenario terburuk dalam hidupnya

“bahkan dalam rangkaian tahun
masih tak mampu aku berkata”
pikirnya meragu

menerpa bayang 8 tahun silam
saat itu bintang tak lagi bersinar
tenggelam bersama malam
dingin acuhkan rasa

di setiap sudut terkenang
merekam waktu berjalan
berdua jalani indah
bersama merasakan
janji sumpah tak terpisah

semua terbalik perlahan
setelah semua pertengkaran
setelah lelah saling mengerti
berjuta maaf terelakan
tak lagi mampu satukan

dan akhirnya terpisah
mereka yang menyerah
mereka yang berhenti percaya
mengalah pada perbedaan

kini..
dia yang basah oleh masa lalunya
masih terus mancari harum yang sama
wangi kekasih yang memudar
dalam belai hangat peluk cinta
dihujani pertanyaan “mengapa”