gumam hati

Bernyanyi dengan gemulai, nada menyuarakan merdu, gerak anggun kenanganmu..
bergerak merangkak, tak maju juga tak mundur, diam terpaku lipatan waktu..
kelak ku tak tahu dan tak ingin tau..
hanya kuingat lembut garis alis yg menghitam tebal membatas tegas…
ku tangkap sorot mata berkelopak mempesona dengan lekukan indah dan setiap bulunya yg melambai sempurna..
bibir tak mampu berkata atau tuliskan apa..
tak lagi bisa bercerita..
hanya rasa…

Iklan

Berita Saya

siapa saya..

saya adalah wajah dari putra pertiwi

anak dari ibu sang merah putih

terdaftar sebagai Indonesia

tegak hormat pada sangsaka

 

siapa saya..

yang berani menilai kebijakan pemerintah

karenanya muncul berbagai ketidaklaziman

yang acuh melanggar aturan

hanya untuk didengar

yang rela menjambak muka para aparat

untuk setiap busuknya sistem birokrat

 

 

siapa saya..

memaki demokrasi tanpa nasi

berteriak reformasi gagal global

terus berdiri tanpa diakui

sendiri tanpa ada yang peduli

terdzalimi tanpa arti

jengah akan politisasi

 

siapa saya..

yang tak lagi merasakan perjuangan

sebangsa dan setanah air

karena harum jasa pahlawan memudar

sang veteran hanya tinggal hambar dan memar

hancur lebur dikebiri para penguasa

dikencingi banci petinggi korupsi

menjadikan merdeka cerita belaka

dibalik meja dikelabui hura-hura

 

siapa saya..

yang memandang merah dengan marah

dan merasakan putih sebagai abu-abu

sumpah serapah tanpa mampu berbuat apa

 

siapa saya..

yang menjadi iba pada nasib tenaga kerja

memandang melas dunia pendidikan

muram pada masa depan

bersedih atas compang camping keadilan

 

siapa saya..

saya yang masih percaya pahlawan itu ada

mereka lahir dalam harapan

dari rahim pertiwi yang sama

dan hadir disetiap masa di sekitar kita

mereka bekerja dengan hati

berkata benar tanpa dibayar

membantu tanpa diminta

berjuang tanpa kepentingan

melihat kecil tanpa merasa besar

mereka ada untuk saya, kalian dan kita

saya adalah wajah dari putra pertiwi

anak dari ibu sang merah putih

terdaftar sebagai Indonesia

tegak hormat pada sangsaka

Kisah

masih juga dia berbicara sendiri
larut seperti lamunan dalam hati
diselakan mimpi
menyela dunia pagi hari

berdiri di depan wajah sendiri
menatap kaca dan terus mencari
setiap kata terangkai pada bingkai kotak
memantul diatas meja jati

ada senyum yang tak terbalas
ada kisah yang tak terungkap
tersesat wajah tak puas
sebuah tanya yang tak terjawab

menunduk, berpaling, berputar lalu menengadah..
setiap pandangan dihantui resah
mencari-cari alasan
untuk skenario terburuk dalam hidupnya

“bahkan dalam rangkaian tahun
masih tak mampu aku berkata”
pikirnya meragu

menerpa bayang 8 tahun silam
saat itu bintang tak lagi bersinar
tenggelam bersama malam
dingin acuhkan rasa

di setiap sudut terkenang
merekam waktu berjalan
berdua jalani indah
bersama merasakan
janji sumpah tak terpisah

semua terbalik perlahan
setelah semua pertengkaran
setelah lelah saling mengerti
berjuta maaf terelakan
tak lagi mampu satukan

dan akhirnya terpisah
mereka yang menyerah
mereka yang berhenti percaya
mengalah pada perbedaan

kini..
dia yang basah oleh masa lalunya
masih terus mancari harum yang sama
wangi kekasih yang memudar
dalam belai hangat peluk cinta
dihujani pertanyaan “mengapa”

Setengah dan Seutuhnya

Kalau saja angkuhmu tak temukanku

Aku akan berpendar bersama cahaya di lautan

Terjebak masa terjelajah

Tersesat di kilauan hujan

 

Saat itu bumi menciut

Mengkecil secuil abu

Halus bisu berlarut

Aku hanyut dalam pandanganmu

 

Sesaat kutatap rapuh

Menemukan rindu di pikiranku

 

Berganti hari berlayar mimpi

Jauh satu purnama terlewati

Tak rupa rasa bercerita

Waktu membentuk kisah

Mempertemukan kita…

 

Seketika hati memeluk erat

Menggenggam pekat syair tersurat

Penuh restu hanya untukmu

Hingga kesempurnaan manusia sepertimu

Mampu melengkapi kekuranganku

Setengah dan seutuhnya…

 

 

 

Hamsyah A Permana