Ibu Surga – Ayah Semesta

Saat itu beliau terbaring lelap
Menatapnya selalu penuh keharuan
Di wajahnya tampak lelah yang menua
Garis kehidupan memberi makna dan cerita

Dia yang lahirkan sayang ke dunia
Hadirkan kasih rupawan dari Tuhan
Manjakan putra bak raja dipeluknya
Memberi surga dalam setiap doa

Ibu ..
Ibu ..
Ibu ..
Ayah ..
Ayah ..

Maafkan aku untuk setiap air mata tak bahagia
Maafkan aku untuk setiap tetes keringat yang tak mampu kuseka
Maaf untuk semua kata dan tingkah yang membuatmu terluka

Karna begitu panjang hari indah selalu kau beri
Tanpa beban berarti semua kau jalani
Tulus untuk mengerti dan menyayangi
Dan takkan mampu aku mengganti

Saat dunia tak ramah kau peluk tenangkanku mesra
Saat aku takutkan cita kau tersenyum yakinkan asa
Dan ketika aku hilang terombang hiruk pikuk manusia
Kau kembali genggam tanganku tuk menuntunku pulang

Ya Rabb..
Jagalah Ibu,
Jagalah Ayah,
Mereka terbaik yang pernah ada,
Kumohon ampun untuk dosaku dan dosa kedua orang tuaku,
Bahagiakan mereka jika kelak aku tak mampu ada.
Amin..

Iklan

gumam hati

Bernyanyi dengan gemulai, nada menyuarakan merdu, gerak anggun kenanganmu..
bergerak merangkak, tak maju juga tak mundur, diam terpaku lipatan waktu..
kelak ku tak tahu dan tak ingin tau..
hanya kuingat lembut garis alis yg menghitam tebal membatas tegas…
ku tangkap sorot mata berkelopak mempesona dengan lekukan indah dan setiap bulunya yg melambai sempurna..
bibir tak mampu berkata atau tuliskan apa..
tak lagi bisa bercerita..
hanya rasa…

Random Poetry

Ketika surga merayu manja, ketika jiwa merenung senja, ada berjuta kisah indah dalam senyummu.

Saat itu.. sembari tersenyum kau memandang, mengundang tanya hati pecundang, apa dikata, apa dirasa, hari itu adalah yang terindah, karena kamu mengangguk iya.

Aku mengenangmu dengan segala keindahan, meski tidak sebaliknya. Karna kini kamu yang kukenal bagai surga telah berubah. bukan nama, bukan wajah, hanya rasa.

Aku tahu di sana kau masih menantikan pagi yang sama, di setiap senja hingga purnama. Namun kau tampik malam dengan terpejam, mmbutakan aku, kamu dan kita.

Kenapa ada kamu dan aku jika tak ada kita, kenapa ada perbedaan jika tak menjadi indah, dan kenapa kau menangis jika tak ada rasa.

Dan kita hanya akan menangisi bahagia untuk rindu yang tak pernah sirna.

Terjaga bisikan rindu, sesal terulang, sesak tertuang, maaf ini milikku darimu dan kembali untukmu.

Ketika kau bilang bangun aku bangkit, kau ingin berjalan aku siap berlari, kau bersedih aku pun menangis, tapi saat kau inginkan sempurna, aku diam.

Sekarang berjalan mundur dan terbalik pun tak masalah, karena hanya hati yang mengerti adanya, bukan untuknya, tapi saya.

Tak hanya hambar terasa, namun rapuh menyelimuti semua. Inilah arti hadirmu untukku atau aku yang sengaja mengganggu mimpimu.

Dan aku membuka mata dengan sisa mimpi semalam, tentang kebisuan rasa yang selalu membuatku terjaga. Seolah bayangmu pun acuhkan aku ada.

pagi ini akan segera membiru, lalu waktu berlalu, semoga malam kan menjaga semua indah tentangmu.
.